Tinggalkan komentar

LIKU-LIKU MENCARI ANAK ASUH

“Jum, cariin anak asuh untuk saya bawa ke Bogor. Sekalian buat bantu di rumah. Bisakah?” itulah pesan singkat yang saya terima dari Pak Androecia Darwis nun jauh disana. Tentu kegiatan ini bukanlah hal yang mudah bagi saya karena menyangkut masalah trust atau kepercayaan dari berbagai pihak yang terkait. Beliau kemudian menjelaskan maksud baiknya. Katanya, ia membutuhkan seorang pria berusia 12 tahunan. Yang jelas, dapat memudahkan bukan malah menjadi beban. Jika sudah demikian, masalah pendidikan tak perlu risau. Ya asalkan, sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya. “baik, saya carikan” kata saya membalas pesan beliau.

Keesokan harinya, saya mengontak Pak Witoyo. Saya yakin beliau akan membantu saya karena ia adalah salah satu pengurus panti asuhan Ruhamaa, sekaligus pernah menjadi tetangga saya. Setelah telepon tersambung, Saya kemudian menyampaikan maksud baik dari Pak Andro. “tidak ada” katanya. Namun menurut hemat saya, bukankah keputusan berada pada pihak anak asuh?

Setelah perbincangan selesai, Saya kemudian bertanya lagi kepada rekan kerja dan teman kampus. Namun, tetap saja hasilnya nihil. Saya katakan pada Pak Andro bahwa saya sudah angkat tangan. Lagian, ini masih tanggal tua alias tidak ada pulsa untuk mencari informasi tambahan. Hal ini saya ucapkan kepada Pak Andro, Spontan beliau berkata: “minta nomor hp”. Saya kemudian membalasnya dengan memberikan nomor yang dimaksud, tak lama kemudian pulsa pun menghampiri nomor saya. Dari sinilah saya merasa bahwa beliau benar-benar sangat memerlukan anak asuh untuk dirumah, “tetap berjuang” katanya.

Kamis sore, tanggal 31 oktober 2013, saya mengontak mantan guru saya yaitu Pak Samsuddin yang sekarang berdomisili di Tanah Merah. Ketika tersambung, ternyata yang merespon telepon saya ialah Mbak Yun, Istrinya. Namun itu tak menghalangi saya untuk bertanya terkait anak asuh. Menurut Mbak Yun, di tempatnya ada seorang yang layak karena keluarganya kurang mampu. Karena keterbatasan ekonomi, anak yang dimaksud sudah 3 tahun tak melanjutkan pendidikan. Syukurlah, informasi ini cukup melegahkan.

Setelah saya mendapatkan berita tersebut, langsung saja saya kontak Pak Andro. “Ada informasi nih. Kata rekan saya, di daerah Tanah Merah sepertinya ada yang layak” setelah saya menjelaskan dengan sedikit tergesah-gesah, Pak Andro kemudian meminta saya ke hotel Bumi Senyiur tepat jam 19:00 WITA karena kebetulan ia sudah berada di Samarinda. “oke” saya menimpali.

Tepat pukul 19:00 WITA, saya tiba di lokasi dan mengontak kembali Pak Andro. “5 menit lagi” katanya. Sambil menunggu, saya mampir sejenak ditempat pedagang kaki lima yang ada disekitar hotel. “ada minuman seribuan tidak?” kebetulan malam itu saya sedang haus. “ada” jawab penjual itu sambil menunjukkan box yang berisi sejumlah minuman campuran yang dingin. Setelah saya cek, ternyata minuman yang saya cari tak ada. “saya ambil 2 aqua  gelas saja deh” kata saya.

Selang beberapa saat kemudian, saya di kontak Pak Andro. Saya menoleh ke hotel yang megah itu, ternyata ia sudah ada didepan sana menunggu saya. “Pak, titip motor sebentar ya, saya hendak ke sebelah sebentar” gumam saya pada penjual itu sembari menunjuk hotel itu.

Tak banyak yang kami bahas pada malam itu karena keterbatasan waktu. Saya taksir, sepertinya obrolan kami hanya memakan waktu 15 menit. “maaf Jum, saya berulang kali di sms ini sama rekan untuk bertemu. Lain kali ya” kata beliau. Namun, obrolan kami cukup masuk pada poin pembahasan karena kami memang fokus terhadap apa yang kami sepakati sebelumnya.

Sekitar pukul 19:30 WITA, saya alihkan kendaraan saya untuk menuju ke rumah Pak Samsuddin. Maklum, sudah lama saya tidak berjumpa dengan beliau sekaligus memperdalam lagi masalah anak asuh yang dijelaskan oleh istrinya.

Kisaran 20 menit perjalanan, saya pun sampai ke lokasi. Saya kemudian menghubungi Pak Samsuddin. Setelah tersambung, istrinya yang mengangkat telepon. “Mbak, saya di Tanah Merah ini. rumahnya diamana ya?” wajar sajalah saya masih kebingunan karena memang saya belum tahu posisi rumahnya. Lalu diseberang telepon terdengar jawaban menjelaskan lokasi rumah, dan: “hanya saja Pak Samsuddin ada agenda pengajian dan biasanya pulang kisaran jam 21:00 WITA” jawabnya. “Tak masalah mbak. Sekalian kita bahas terkait anak asuh yang mbak jelaskan tadi” ujar saya.

Setelah berhasil menemukan posisi rumahnya, saya pun bersorak di depan pintu: “Assalamu’alaikum”. “wa’alaikumussalam, silahkan masuk” ujar Mbak Yun menyambut kami. Obrolan berjalan cukup santai. Selain membahas anak asuh, obrolan juga melebar kemana-mana hingga kemudian, sekitar pukul 21:15 WITA, pak Samsuddin pun  datang. Tentu saja obrolan kami semakin seru karena sudah lama tak basah-basih dengan beliau. Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 22:00 WITA. Ini berarti, Saya harus kembali karena sudah larut malam.

“saya pulang dulu pak. Kabarin saja ya jika ada anak asuh yang bersedia di bawah ke bogor” saya pun pamit dengan penuh kewaspadaan karena sebelum kembali, saya dihimbau untuk berhati-hati di daerah Tanah Merah dengan alasan sering terjadi kecelakaan.

Jumat, 31 november 2013 sekitar pukul 14:30 WITA, saya kembali menghubungi salah satu panti asuhan yang saya peroleh dari rekan kerja. Seperti biasa, setelah tersambung saya langsung saja menyampaikan niat baik dari Pak Andro. Alhamdulillah, ternyata saya mendapatkan respon positif darinya. “saya tidak bisa memutuskan apa-apa. Semua keputusan dari anak itu sendiri” katanya. Akhirnya, kami sepakat akan bertemu di panti asuhannya yang berlokasi di Pondok Pesantren Nurul Amin, Samarinda Seberang. “kalau mau kesini, kontak saya dulu ya. Barangkali saya tidak ada dirumah” lanjutnya.

Saya kemudian kembali mengontak Pak Andro. “Ada informasi lagi ini. mungkin lebih baik kita ke lokasinya saja. Karena Menurut saya, itu lebih efektif” lalu ia pun menyetujui saran saya. “besok ketemuan di Bank Indonesia (BI) sekitar pukul 08:00 wita saja ya” beliau menegaskan.

Hari itupun tiba. Sekitar pukul 09:00 wita, saya baru sampai di BI. Sedikit telat memang karena pagi-pagi saya harus mengantar kakak perempuan saya bekerja. Sebelum saya masuk ke kantor BI, tampak ada 2 orang pria yang bersiap menghampiri saya. Mereka terlihat menakutkan karena mereka berkostum satman dan polisi. Sir, seketika jantung saya berdesir. Aduh, Jangan-jangan saya hendak di introgasi.

Pada saat yang sama, tiba-tiba saja Pak Andro turun dari mobil berwarnah putih yang tak jauh dari lokasi. Ia lalu menghampiri kedua pria itu. Saya tak tahu apa yang mereka bincangkan. Namun, dari hasil pembicaraan tersebut, tiba-tiba raut wajah kedua pria itu berubah derastis menjadi lembut dan sopan. “silahkan masuk” kata mereka sembari menunjukkan tempat parkir. “Langsung berangkat ya?” lalu Pak Andro menimpali: “iya Jum, ayuk naik” katanya.

Kami berangkat ada 4 orang dan keduanya lagi ada istri dari paman Andro yaitu Bu Mulni dan Pak Rano yang bawa mobil. Di dalam mobil, Kita berbincang cukup santai. beragam yang kami bahas. Namun, pembahasan yang cukup menarik perhatian, yaitu ketika paman Andro bertanya begini: “kuliah dimana jum?” saya menimpali: “saya kuliah Universitas Mulawarman (Unmul) dan sedang di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip)”. “wah, harus pandai berkomunikasi itu Jum” timpal beliau.

Pak Rano melanjutkan: “benar, Fisip itu senjatanya adalah berbicara”. Saya mengangguk pelan karena kata-kata barusan, merupakan motivasi yang sering saya dapatkan dari beberapa Dosen saya di kampus. Barangkali, mereka paham sekali bahwa pentingnya menguasai ilmu komunikasi dalam kehidupan ini apalagi mahasiswa yang mengambil jurusan Fisip.

Sekitar pukul 10:00 WITA, kami akhirnya sampai juga di lokasi. Pak Andro mengintruksikan kepada saya dan pak Rano untuk menemui pengurus panti asuhan.

Di depan pintu ruangan kerja pengurus, kami bersorak: “Assalamu’alaikum”. “Wa’alaikumsalam” jawab salah satu pengelolah panti asuhan yang bernama Pak Junaidi sembari mempersilahkan kami duduk. Beliau membuka topik pembahasan duluan. Katanya, apa yang saya sampaikan melalui telepon kemarin kurang jelas. Entah apa dasarnya ia mengatakan begitu pada kami. Barangkali, olahan komunikasi saya yang kurang efektif kemarin atau mungkin masalah jaringan saja.

Pak Rano menjelaskan kembali niat baik dari paman Andro. Tehnik komunikasi dari Pak Rano ini memakai bahasa Banjar. Jadi, pembicaraan kami terkesan sangatlah santai. Kebetulan, Pak Junaidi ini pandai juga ternyata berbahasa Banjar walaupun beliu ini adalah orang jawa.

“Tentu kami akan pertanyakan hal ini dengan berbagai pihak dulu. Terutama keluarga dari pihak anak-anak itu sendiri. Kriterianya seperti apa?” kata Pak Junaidi menanggapi apa yang Pak Rano jelaskan. Pak Rano menimpali: “Madrasah Tsanawiyah (Mts) yang berumur kisaran 12 dan 13 lah”.

Setelah kami rasa cukup jelas, kami meminta izin untuk kembali. Namun sebelumnya, Pak Rano dan Pak Junaidi bertukar kontak supaya komunikasi terkait anak asuh tetap berjalan dengan baik. Syukurlah, semoga saja salah satu dari mereka dapat berkontribusi untuk Pak Andro.

Jumardi Salam

Samarinda, 04 November 2013

Tinggalkan komentar

Kantong Plastik

Beberapa hari yang lalu, saya ke toko yang menyediakan es batu. maklum, dirumah belum ada kulkas. Persediaan daging yang saya dapatkan pada hari qurban, cukup banyak. Jika tak segera di dinginkan, tentu saja akan mengeluarkan aroma yang tak sedap.

Sampai ke toko, saya langsung membuka obrolan transaksi. “mbak, ada es batu tidak?” kata saya. “oh, ada. Pesan berapa?” timpalnya sembari membuka pintu kulkasnya. “cukup tiga saja mbak” saya menimpali kembali. transaksi berjalan dengan mulus. Hanya saja, ada yang kurang. Ya, es batu ini butuh wadah.

“ada kantong plastik tidak?” saya melanjutkan perkataan. “tak ada” sahutnya dengan singkat seraya mengggeleng-gelengkan kepala. Lah, apa benar begitu? tak mungkin jugalah toko ini tak ada kantong plastiknya. Aduh, tega nian sih sama ambo. Ya sudahlah sabar saja. Bukankah kita sering mendapatkan nasehat seperti ini: “jika kamu di hadapkan dengan suatu masalah, solusi terbaik ada sabar”. Betul apa betul?

Dau hari selanjutnya, saya kembali lagi ke toko itu. Sebenarnya niat saya untuk kembali kesana kembali, sudah tak ada gairah. Namun berhubung lokasinya tak jauh dari rumah, ya aya-aya waelah. Jumlah es batu yang saya beli kali ini, cukup 2 saja. Karena, stok dagingnya sudah tak terlalu banyak.

Usai melakukan transaksi, Iseng saja, saya meminta kantong plastik. Maklum, sekarang yang melayani saya, orangnya berbeda. Apa jadi? Alhamdulillah, ia memberikan juga plastik buat saya. duh, sungguh mulia sekali hatinya. “terima kasih” kata saya dengan semangat sambil meninggalkan tokoya, Lalu berdoa: “ Ya Allah, Semoga para pedagang sekarang dan yang akan datang, memiliki hati yang mulia dan melayani pelanggannya dengan tulus dan ikhlas, amien”.

Jumardi Salam

Samarinda, 22 Oktober 2013

Tinggalkan komentar

Pesan dari Entrepreneurship

Entrepreneurship itu menyenangkan. Namun, terkadang jika salah memanajem, bisa jadi beberapa saat kemudian sudah tak berani mencoba lagi. Akhirnya? Pesimis pun menghampiri.

Kegagalan itu bisa kita jadikan intropeksi diri bukan?. Asalkan pandai-pandai saja menyikapi situasi. Tanyakan ini pada diri sendiri:”Saya gagal karena apa ya, Apa karena salah pemasaran, ataukah ini ataukah itu ya?”

Acap kali Kita mendapatkan nasehat seperti ini:”janganlah jatuh pada lubang yang sama”. Artinya, tak usahlah pesimis tetapi cari jalan keluar atau solusi. jikalau masih terperangkap dalam lubang yang sama, berarti ada yang salah. Ayo intropeksi intropeksi dan intropeksi.

Masih ingat Thomas Alfa Edison? Ya, pembuat lampu itu lho. Dalam beberapa buku sejarah menjelaskan bahwa, membuat lampu itu tidaklah langsung jadi (instan). Ia juga pernah gagal. Bahkan sampai dengan seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan kali dan hingga kemudian ia pun berhasil. Alhamdulillah kita bisa menikmati karyanya sekarang. Bahkan tak jarang kita menemukan lampu dengan desain yang sangat menarik. Keren bukan?

Ingat, tidak ada sesuatu yang instan. Semua membutuhkan proses terlebih dahulu. Ibaratnya begini, Jika hendak merebus air, apa yang kita lakukan? Tentu dengan mengambil air bersih dulu, masukin ke ceret, terus masak deh pakai kompor.

Maksudnya jika hendak memasak air, tentu kita akan menunggu hasilnya setelah mengikuti beberapa proses yang ada. Ya, tidak langsung dong airnya panas. Hanya iblis saja yang bisa memanaskan dirinya dengan cara yang instan. Jadi, nikmati saja proses yang ada.

Udah, tak usah pusing deh. Ragam usaha menerpah ruah. Ada bisnis investasi semakin marak ada pula usaha kecil-kecilan yang menggiurkan. Pilih mana?

Saya kasih gambaran sedikit. Untuk memulai bisnis, fokus dululah terhadap satu jenis usaha. Mau nambah? Udah, fokus saja dulu. Entar berantakan lagi. Betul apa betul?

Sekedar saran saja. Untuk terjun di dunia bisnis, mulai dululah dengan bisnis yang kecil-kecilan. Namanya juga kecil ya untungnya juga kecil dong, hehe. Ingat, jangan pesimis.

Dalam dunia bisnis, bukan kecilnya usaha yang kita lakukan yang menjadi pusat perhatian. Namun bagaimana cara kita memulai dan memanajemen. Jika sudah terorganizir dengan baik, tentu kita akan bersama-sama berfikir begini:”lumayanlah untungnya segini. Insyah Allah saya akan mengembangkannya”. Udah mulai terbayang menjadi seorang entrepreneurship?

Beberapa bulan terakhir, saya mulai fokus terhadap satu usaha menarik. “Jual kaos dan kameja batik desain tim sepak bola ternama” demikian bisnis yang saya jalankan. Memang sih untungnya tidaklah terlalu signifikan. Namun setidaknya saya sudah memulainya dan mengetahui apa saja di dalamnya. Terus kapan dong bagusnya untuk memulainya? Sekarang. Iya sekarang dong.

Jumardi Salam

Samarinda, 02 Oktober 2013

Tinggalkan komentar

STAND UP COMARDI

Iseng saja, malam ini saya akan mencoba menjadi seorang stand up comedian (comic) di salah satu cafe yang ada di daerah Samarinda.

“Kak, saya berminat menjadi seorang comic. Bisakah?” Tanya saya melalui sms kepada pihak pelaksana acara.

“Bisa. Silahkan datang ya ke cafe Daisy Coffee malam ini pukul 19:30″ ujarnya

Sebuah tantangan baru yang sangat ingin sekali saya coba. Kata bijak memperkuat keinginan:”carilah pengalaman sebanyak-banyaknya. Kelak, engkau akan mendapatkan dampaknya”

Jum’at, tanggal 21 september 2013 pukul 19:30 wita, saya tiba di cafe yang akan mengadakan acara stand up comedian. Ada yang menarik, ketika saya memperhatikan sejenak cafe ini. Tempat ini sangat elegan bagaikan berada di lingkungan pedesaan. Suatu arsitektur yang unik sekali.

“Mbak, Saya ingin bergabung di stand up comedian ini” Saya membuka topik pembahasan pada salah satu karyawan disana.

“Oh, Kebutulan malam ini ada openmic. Kalau kamu ingin bergabung, pastinya harus tampil dulu. Lucu tak lucu, tampi saja dulum soal bagusnya mah, belakangan, ” jawabnya sambil membuatkan minum pelanggang lain.

Oalah, Saya hanya bisa melongo sambil merenungi:”Bagaimana nasib saya jika langsung tampil malam ini?”.

Selang beberapa saat, para comic termasuk pihak pelaksana telah tiba di lokasi. Sebelum acara dimulai, Kami mengobrol ringan dan tak lupa pula membahas masalah openmic.

“Kak, memang harus ya kalau mau bergabung langsung openmic?” Ujar saya pada rombongan.

“Iya dong. Siap ya, openmic malam ini? Tak susah kok. Tapi, kalau sudah terbiasa bakal enak jadinya” Jawab salah satu comic yang mewakili rombongan.

“Ya sudah, tak masalah deh. ” jawab saya.

Sekitar pukul 21:00 wita, mc mulai membuka acara. Suara riuh dari penonton mulai terdengar meramaikan suasana.

Para comic mulai menyampaikan materinya satu persatu. Materi yang mereka bawakan pun beragam. Terkadang apa yang mereka lihat sekarang, terkadang pula sudah terorganizir terlebih dahulu. Tergantung, kemampuan mengolah komunikasi dan tetap menjaga hubungan dengan para audiens

Satu jam kemudian, giliran saya pun tiba.
Mc memanggil:”Selanjutnya, kita kedatangan comic baru. Kita beri tepuk tangan yang meria kepada, Jumardi..”.

Setelah berbincang-bincang sejenak dengan mc, beberapa saat kemudian, saya pun menyampaikan materi. Entah kenapa saya menjadi tergagap-gagap. Para audiens tak ada yang ketawa. Materinya pun berantakan. Aduh, kok jadinya seperti ini?

Namun suara riuh kembali meramaikan suasana ketika saya bergumam:”Maaf kawan, saya masih baru. Tak tau apa yang harus saya katakan,” Нahaha nikmati sajalah.

Tak lama kemudian, saya pun menutup materi. Suara tepuk tangan pun kembali terdengar.

“Terimah kasih” saya menutup materi dengan sopan.

Saya kembali keposisi semula. Pikiran saya masih saja menerawang. Mengapa kok jadinya seperti ini?

Menjadi seorang comic bukanlah hal yang mudah ternyata. Melalui acara seperti ini, saya menyadari bahwa seorang comic, tak pantas meniru gaya atau pribadi seseorang. Karena sesungguhnya para comic ialah menampilkan karakter pribadi yang sebenarnya.

Itulah yang membedakan para comic dengan jenis komedi yang lain. Karena, ternyata acara komedi yang jenisnya seperti ini, mampu menumbuhkan karakter pribadi kita yang sebenarnya.

Jumardi Salam
Samarinda, 21 september 2013

4 Komentar

LUBANG BEBATUAN MENERPA

Sebuah pesan singkat, akan menjadi pembukaan tulisan ini:

Diterima : hari jumat, tanggal 13 september 2013 tepat pukul 11:14 Wita

“Mengundang seluruh anggota yang tergabung dalam Lembaga Dakwah Kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (LDK Fisip) Universitas Mulawarman, untuk menghadiri acara halal bi halal yang akan di adakan oleh Pak Adam (Dekan Fisip Unmul) di rumahnya pada pukul 20:00. Kumpul di musalah Al-Ashr. Kita berangkat bersama. Mohon konfirmasi ya”

Sesuai permintaan pada pesan singkat tersebut, konfirmasi balasannya saya kirim setelah membaca pesan tersebut. “sip sip” saya membalas dengan singkat.

Malam sabtu telah tiba. Sekitar pukul 20:00 wita, kami rombongan yang berjumlah lebih dari 20 orang sudah bersiap menuju ke lokasi. Kebetulan, malam itu sohib Fadly berangkatnya sendirian. Saya ikut saja dengannya. Lumayanlah hemat bensin, hehe.

Di perjalanan, tiba-tiba ada sebuah kejadian yang kurang mengenakkan. Sebuah ponsel milik sohib Firman, terjatuh di aspal karena motor yg ia kendarai menabrak lubang yang terdapat di jalan raya. Seketika kami beberapa rombongan dibuat terkaget-kaget. “Tak apa, ponselnya baik-baik saja kok” ujar Firman melegahkan suasana. Syukurlah, kami pun melanjutkan perjalanan.

Masih dijalan. Dari lubang dadakan di aspal, kini masalah akses gang masuk menuju rumah Dekan. Ternyata jalannya kurang bagus. Ada bebatuan yang besar-besar dan lubang. Kondisi makin tambah parah karena jalannya licin diakibatkan hujan tadi siang.

Jika kita baru saja melihat jalan tersebut, tentunya kita akan bertanya-tanya. Apakah pemerintah setempat tak memperdulikan masalah jalan tersebut? kota kok masih saja ada jalan seperti ini? Apa karena kekurangan dana untuk membiayai perbaikan jalan tersebut?

Secara tidak langsung, Jalan tersebut mengingatkan saya ketika beberapa minggu terakhir saya mengunjungi kampung halaman.

Waktu itu, hari minggu tanggal 11 agustus 2013, adalah merupakan hari yang istimewah bagi saya pribadi. Karena, hari itulah yang akan memecahkan kegelisahan saya selama 5 tahun terakhir yang tidak pernah kembali mengunjungi kampung halaman. Kata teman-teman mah, melebih bang Toyib, hehe.

Namun ketika sampai ke kampung halaman, saya perhatikan rasa-rasanya tak ada perubahan yang lebih baik malah tampak sebaliknya. Kampung yang dulunya dikenal dengan penghijaunnya serta kebersihannya, kini menjadi kampung yang tak terawat. Tercermin sekali ketika melihat kondisi jalannya sangat memprihatinkan. Rasanya ingin bersorang sekencang-kencangnya: “kapankah semuanya akan berakhir?”

Akankah kita akan menyalahkan pemerintah? Tak jarang dari kita akan menjawab, Ya itu jelas sekali. Karena tugas dasar dari pemerintah ialah melayani masyarakat. Jika masyarakat tidak merasa terlayani, ia bisa dikategorikan sebagai pemimpin yang gagal.

Tepat pukul 20:20 waktu setempat, kami akhirnya sampai ke rumah Dekan. Para rombongan terlihat sedikit kesal karena jalan yang dilalui sebelumnya kurang baik. Ada yang sandalnya putus, ada pula yang hanya terkena lumpur.

Beberapa rombongan masuk terlebih dahulu ke rumah pak Adam termasuk saya. Sementara yang lainnya, masih sibuk membersihkan kakinya akibat terkena lumpur hingga kemudian perlahan-lahan menyusul kami.

Memperkenalkan diri masing-masing merupakan hal yang pertama yang kami lakukan ketika bersilaturahim dengannya. Mengingat, ia belum mengenal kami satu persatu.

Setelah agenda perkenalan, makan-makan merupakan agenda selanjutnya. Sekaligus, itu adalah agenda yang paling diminati, hehe.

Ragam makananan menyambut kami. Ada bakso, ada pula makanan campur. Cemilannya pun beragam. Ada roti coklat, ada pula gorengan. Banyak ragam deh, Нahaha.. Nikmatnya.

Setelah menikmati makananan yang beragam, agenda selanjutnya berlanjut dengan sebuah cerita menarik dari pak Dekan. Kisanya tak lain ialah kisah perjuangan beliau sehingga menjadi seorang yang nomor satu ditingkat Fakultas. Mengingat kembali, para mahasiswanya termasuk saya belum mengenalnya lebih detail. Saya rasa, para pembaca mengerti saja mengapa pak Dekan mengisahkan hidupnya kepada kami. Ya, supaya kita terinspirasi dengan kisah suksesnya.

Ada yang menarik di sela-sela kisahnya. Ia mengatakan begini:

“Ketika saya di Australia, saya merasakan kehidupan yang serba teratur disana. Jam 9 malam saja, semua sudah beristirahat dirumah. Bukan hanya itu, ketertibat juga dibudayakan. Seperti ketika masyarakat dihadapkan dengan arus lalu lintas. Semua serba mengalah sehingga, ketika kendaraan berhenti, yang di depan ya di depan. Yang di belakang, ya harus di belakang.”

Kembali lagi kepertanyaan sebelumnya. Siapa yang pantas diberikan apresiasi jika kota yang yang indah, teratur Serta kehidupan yang damai berhasil diwujudkan di sebuh negara? Saya rasa, kita akan bersama-sama mengatakan bahwa, yang pandas diberi apresiasi ialah pemimpin disana. Dengan begitu, pantaslah jika kita masukkan jenis pemimpin seperti ini dalam kategori pemimpin yang berhasil.

Sebuah negara, tentunya akan menjadi negara yang berhasil jika pemimpinnya mampu memberikan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Apa masih ada jalan? Insya Allah masih.

Jarum jam telah menunjukkan pukul 21:30 waktu setempat. Artinya, kami harus mensegerakan diri untuk pamit. Apalagi, dari rombongan kami ada yang perempuan.

“Pak, kami pulang dulu ya, sudah lumayan malam ini” ujar salah satu kawan yang mewakili rombongan. “Ya, terima kasih telah berkunjung disini.Jika hendak pulang, Bapak sarankan lewat jalan diseberangnya saja. Soalnya jalan itu lumayan bagus jika di bandingkan dengan jalan yang kalian lalui sebelumnya”.

Pak Adam tampaknya sudah mengerti apa yang kami alami sebelumnya, Нahaha.

Kami menimpalinya:”trimakasih pak, pamit ya Assalamualaikum”. Pak Adam menutup silaturahim kami:”Walaikumsalam”.

Jumardi Salam 
Samarinda, 14 September 2013 

Tinggalkan komentar

Makan bakso di naungan banjir

Senin, tanggal 02 september 2013, hujan kembali terjadi di kota Samarinda tepatnya pada pukul 16:00 waktu setempat. Saat itu, saya masih stanby di dalam masjid usai melaksanakan shalat azhar. Lebih baik seperti itu. Saya juga tak terlalu buru-buru untuk back to home.

Beberapa saat kemudian, hujan terdengar tak lagi mengeras. Saya pun berjalan menuju pintu depan, guna melihat kondisi diluar. Ketika melihat kondisinya, ternyata jalan yang ada di depan masjid, sudah diisi oleh kumpulan air yang tingginya sampai paha.

Saya tak bisa berbuat banyak, karena motor saya belum terbebaskan dari naungan banjir tersebut. Jika dipaksa, yang ada saya dipaksa mencari mencari bengkel.

Sekitar pukul 16:45, Saya masih berada disekitar masjid. Namun, semakin lama, semakin lapar saja. Saya akhirnya keluar sejenak guna mencari makanan. Saya pun memulai perjalan menggunakan jalan yang airnya tak terlalu dalam.

Masih diperjalanan, saya mulai melihat-lihat beberapa warung makan yang tampak disekitar. Dari beberapa pilihan, saya memutuskan untuk menemui pedagang bakso. Namun hal yang tidak saya duga sebelumnya terjadi seketika. Saya harus mengatakan bahwa pada saat itu, saya menginjak lubang parit yang dalamnya sampai ke pinggang saya. Alamak, sabar sabar dan sabar.

Segeralah saya menyelematkan diri. Alhamdulillah, tas yang saya bawah yang memiliki barang berharga tak masalah. Hanya saja, ponsel bb saya rusak akbit terkena air yang saya selipkan di kantong celana dan saya juga harus rela kehilangan sandal saya.

Singkat cerita, Saya langsung mengontak sohib Marlin menggunakan ponsel alternatif. Saya mengatakan padanya seperti ini:”apa ya, yang harus saya lakukan jika saya berada di dalam kondisi seperti ini?”. Ia lalu menimpali jawaban:”biarkan saja motor kamu disitu dulu. Kamu keluar saja berjalan kaki biar saya jemput di luar”. Alhamdulillah, selamatlah nasib saya.

Realita kehidupan memang tak bisa ditebak. Sesuatu yang aneh, bisa saja terjadi pada kita bahkan kita bisa mengatakan itu adalah musibah. Yang harus kita lakukan hanyalah mempersiapkan diri. Bukankah kita selalu mendapatkan nasehat seperti ini, “Mencegah lebih baik daripada mengobati”.

Usai mengobrol ringan dengan sohib Marlin, telpon pun saya tutup sambil mengikuti intruksinya. Gimana, apa jadi makan bakso? Alhamdulillah tetap jadi, hehe. Semoga kita bisa mempersiapkan diri dari realita kehidupan yang penuh tanda tanya.

Jumardi Salam
Samarinda, 07 september 2013

8 Komentar

Membaca Buku Berhadiah Kawan

Siang ini, cuaca di Samarinda lumayan panas menyengat. Namun, saya tetap harus melaju ke Perpustakaan Daerah. Alasanya sederhana, buku yang sebelumnya saya pinjam sudah jatuh tempo selama 6 hari.lama memang, karena buku belum sempat saya kembalikan sehingga terbawa pada saat saya berlibur di Sulawesi Selatan.

Setelah sukses mengembalikannya, saya biasanya kembali mencari buku-buku yang layak dijadikan refrensi. Diantara buku-buku yang tersusun rapi dirak lemari, saya tertarik pada kisah bertajuk politik dan saya pun mengambil salah satu diantaranya untuk dibaca. Entahlah, mungkin karena saya menyukai dunia politik sehingga, jari-jemari ini mudah saja bergerak membuka lembaran demi lembaran buku itu.

Sambil membaca, saya juga memanfaatkan fasilitas wifi ditempat ini menggunakan laptop. lumayanlah bisa online sambil membaca.

Disela keasyikan membaca dan online, tiba-tiba saja, ada suara bisikan terdengar pelan ditelinga. Melalui gelombang angin, suara itu mulai mengeras ketelinga saya: “Permisi, bagaimana caranya mendapatkan user id dan password wifinya ya mas?”. Ternyata, Suara itu berasal dari seorang gadis.

Namanya azmi Bil Hamasah, umurnya 19 tahun. Kulit putih memakai jilbab. Sedikit berisi dan tidak terlalu tinggi dan maupun pendek. Kata penyanyi dangdut mah, “….sedang-sedang saja”.

Dari raut wajahnya, tampak sekali Azmi sedang dilanda kebingungan. Saya pun sedikit memaparkan apa yang saya ketahui tentang pertanyaan yang terkait. Mendengar paparan singkat saya, ia kemudian bergegas melaksanakan apa yang telah jelaskan. “Makasih mas. Oya, Barang saya tak hilangkan jika saya tinggal sebentar?” Ungkapnya. “Insya Allah, aman. Silahkan deh kesana” saya menimpali.

Tak lama kemudian, ia kembali lagi ketempat yang semula. “gak bisa daftar user id dan password wifi mas” ujarnya. “Kok bisa?” Saya menimpali dengan sedikit penasaran.”Orang yang membantu daftarkan user wifi, tak ada” ujarnya kembali. “Ya sudah tak apalah, pake user saya saja dulu. Saya juga sudah tak online kok” saya menimpali kembali.

Obrolan berlangsung dengan nuansa yang berbeda. Penuh kedekatan layaknya kisah lama bersemi kembali.

Dari obrolan tersebut, Ada yang menarik perhatian diantaranya:

Ia kuliah di Malaysia jurusan sastra Inggris dengan bantuan beasiswa. Bukan hanya itu, ia juga menjelaskan bahwa dalam waktu dekat ini, ia akan melakukan tes bahasa Jerman. Jika berhasil, tentunya ia akan berlibur di Jerman selama 3 bulan penuh.

***

Hari sudah mulai sore. Terik menyengat pun sudah mulai menurun. Saya tak sadar, saya ternyata larut dalam cerita yang penuh dengan inspirasi. Ada beberapa hikmah yang mesti kita jadikan pelajaran. Diantaranya, tidak ada yang tidak mungkin didunia ini. Tak bisa melanjutkan pendidikan, beasiswa siap membantu.

Obrolan sederhana ini, berakhir dengan happy ending. Dan, Agar silaturahim tetap terjalin, tentu saja kita saling menukarkan identitas masing masing. Baik melalui akun Jejaring Sosial, maupun blog.

Jumardi Salam 
Samarinda, 23 Agustus 2013